Kisah Sukses Pasutri Pengusaha Tas: Sebulan Bisa Laku 5.000 Barang, Omzet Fantastis

Kisah Sukses Pasutri Pengusaha Tas: Sebulan Bisa Laku 5.000  Barang, Omzet Fantastis

IDXChannel—Mempunyai usaha atau bisnis yang besar dan sukses tentu menjadi impian semua orang. Namun tanpa perjuangan dan ketekunan untuk mencapai itu tentu bukanlah perkara yang mudah. 

Itulah perjalanan yang ditempuh Muntasor dan Nur Rahmawati, founder dari tas lokal premium Moozaya Indonesia. Sebelum membangun bisnis tas, kedua pasangan ini sebelumnya pernah memiliki pengalaman wirausaha di bidang kuliner yakni jualan snack dan bisnis online. 

Namun impiannya menjadi entrepreneur yang sukses membuat ia terus berinovasi dalam menjalankan bisnisnya. Lalu pada 2015, ia memulai menjadi reseller tas-tas murah tanpa brand dengan harga Rp50 ribuan.

“Ketika itu berjalan dua bulan atau tiga bulan, jualan kita itu cuma hari minggu saja sama online. Karena ada banyak razia penertiban pedagang kaki lima kita sempat tidak berjualan selama satu bulan,” ujar Muntasor.

Sebelum akhirnya mendirikan brand sendiri, pasangan suami istri ini sempat memproduksi tas tanpa merek namun dengan desain sendiri. Pada saat itu, desain-desain tas yang dirancang Muntasor diterima baik oleh pasaran. Tas buatannya laku keras, sampai-sampai ditiru oleh pedagang lain. 

"Nanti saya bikin apa, enggak lama sudah ada yang niru. Bikin pusing karena perang harga, mereka jual lebih murah dari harga saya," tutur Muntasor. 

Muntasor dan Nur banyak belajar dari bisnis tas ini. Ada masanya Munstasor dan Nur mengedepankan kualitas produk, namun saat itu, pola konsumsi konsumen saat itu lebih terorientasi pada harga. Sehingga, mereka kalah saing dengan pedagang lain. Sebab pedagang lain tidak begitu mementingkan kualitas, namun berani menjual dengan harga murah. 

"Waktu itu ada online shop yang laku terjual 10.000 tas sehari, sementara saya hanya bisa jual 2.000 tas per bulan. Orang enggak lihat kualitas, yang penting murah. Sementara saya ngejar pembenahan kualitas," katanya.  

Akibatnya, usaha tasnya saat itu mulai sepi hingga Muntasor dan istrinya vakum berdagang. Ketika itu, Muntasor memanfaatkan waktu untuk belajar tentang produksi tas. Selama enam bulan, ia bolak-balik ke konveksi untuk belajar membuat tas. 

Ketika permintaan pasar mulai meningkat, mereka memutuskan untuk mengontrak agar bisa berjualan tas setiap hari. Selain menjual tas tanpa brand, mereka juga memproduksi tas dengan merek Moonzaya dengan produk pertama mereka yang dinamakan Wiwit dan Tresna.

Keputusannya terbilang berani karena launching pada saat pandemi, namun mereka tetap optimis membuka usahanya dan optimis mengeluarkan produk baru. Mereka berharap brandnya akan memberikan harapan dan peluang pekerjaan untuk masyarakat.

Namun untuk mencapai dititik yang sekarang, mereka juga mengalami kegagalan bahkan gulung tikar lantaran modal yang dipakai adalah hasil pinjaman dari bank dan banyak sekali ujian yang dialami seperti anak sakit, karyawan yang keluar masuk hingga pengrajin dari jumlah 25 orang satu per satu keluar dan menyikan satu karyawan yang bertahan.

Kini hasil kerja kerasnya tidak sia-sia untuk melunasi utang dan mengembangkan bisnisnya. Saat ini penjualan tas Moonzaya mencapai sekitar 5.000 tas dalam sebulan dan pastinya meraup omzet yang fantastis. Jika rata-rata harga adalah Rp50.000 saja, pasutri ini bisa menghasilkan Rp250 juta. (NKK


Penulis: Noviyanti Rahmadani

Header Banner
  Contact Us
  • Bellezza BSA 1st Floor SA1-06, Jl. Letjen Soepeno, Permata Hijau, Kel. Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Adm. Jakarta Selatan, Prov. DKI Jakarta
  • redaksi@media.apdgroup.co.id
  • +6285156946303
  Follow Us
  About

Persembahan dari PT Digital Inspirasi Nusantara, entitas anak dari PT APD Investama Indonesia yang berada di bawah naungan APD Group.